Blogger news

Sabtu, 07 Januari 2012

PENDAPATAN




Teori tentang pendapatan menyangkut masalah definisi, pengakuan, saat pengakuan dan prosedur pengakuan. Pendapatan dapat didefinisi dari beberapa konsep. Yang membentuk pengertian pendapatan adalah:
1.      Aliran masuk atau kenaikan aset
2.      Kegiatan yang merepresentasi operasi utama atau sentral yang menerus;
3.      Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban;
4.      Suatu entitas;
5.      Produk perusahaan;
6.      Pertukaran produk;
7.      Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk;
8.      Mengakibatkan kenaikan ekuitas.
Karakteristik 3-8 sebenarnya merupakan ppenjabaran atau konsekuensi dari ketiga karakteristik sebelumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa karakteristik 1 dan 2 merupakan karakteristik utama sedangkan lainnya merupakan karakteristik konsekuensi, pendukung, atau penjelas.
Untuk dapat mengatakan bahwa pendapatan ada atau timbu, harus terjadi transaksi atau kejadian yang menaikkan aset atau menimbulkan aliran masuk aset. Paton dan Littleton (1970,hlm47) menyebutkan bahwa aset dapat bertambah karena berbagai transaksi, kejadian, atau keadaan sebagai berikut:
a.       Transaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor.
b.      Laba yang berasal dari kegiatan investasi, misalnya penjualan aset tetap, surat berharga, segmen bisnis, dan anak perusahaan.
c.       Hadiah, donasi, atau temuan.
d.      Revaluasi aset yang telah ada.
e.       Penyediaan dan atau penyerahan produk (barang dan jasa).
Pendefinisian pendapatan sebagai kenaikan aset merupakan pendefinisian dengan konsep aliran masuk (inflow concept of revenue).  Konsep ini memilki kelemahan karena pendapatan dianggap baru ada setelah transaksi penjualan terjadi. 
            Tidak semua kenaikan aset memebentuk pendapatan. Kegiatan utama atau sentral yang menerus atau berlanjut merupakan karakteristik yang membatasi kenaikan yang dapat disebut pendapatan. Kenaikan aset harus berasal dari kegiatan operasi dan bukan kegiatan investasi dan pendanaan. Kegiatan operasi ini diwujudkan dalam bentuk memproduksi dan mengirim berbagai barang kepada pelanggan atau menyerahkan atau melaksanakan berbagai jasa. Produk perusahaan harus diartikan sebagai seluruh jenis barang dan jasa yang disediakan atau diserahkan kepada pelangganan tanpa memandang jumlah rupiah relatif tiap jenis produk tersebut ataupun sering tidaknya produk tersebut dihasilkan.
Produk yang dihasilkan secara tidak rutin atau incidental sering dianggap sebagai pos pendapatan “non operasi” dan dipisahkan penyajiannya. Paton dan Littleton (1970) berpendapat bahwa pemisahan laba atau rugi sebagai sebagai pos operasi dan nonoperasi hanya dapat dibenarkan kalau laba atau rugi tersebut benar-benar luar biasa dan berkaitan dengan tujuan perusahaan utama hanya secara kebetulan saja.  Bila tidak bersifat luar biasa, pos-pos tersebut lebih tepat dilaporkan sebagai pendapatan lain-lain dan untung (other revenues and gain). Untuk kepentingan manajerial pemisahan kegiatan menjadi operasi dan non operasi dapat saja dilakukan, akan tetapi untuk tujuan eksternal kedua kegiatan tersebut harus tetap dipandang sebagai kegiatan operasi.
            Pendapatan tidak hanya didefinisi dari sudut kenaikan aset tetapi juga dari penurunan atau pelunasan kewajiban. Oleh karena itu, jumlah rupiah yang diterima biasanya diperlukan sebagai pendapatan takterhak atau pendapatan tangguhan yang statusnya adalah kewajiban sampai ada prestasi dari perusahaan berupa pengiriman barang atau pelaksana jasa. Kejadian pengiriman barang mengubah kewajiban menjadi pendapatan. Jadi alih-alih didefinisi sebagai kenaikan aset pendapatan dapat didefinisi sebagai penurunan kewajiban.
Pendapatan didefinisi sebagai kenaikan aset bukannya kenaikan ekuitas bersih  meskipun kenaikan aset tersebut akhirnya berpengaruh terhadap kenaikan ekuitas bersih. Jadi aset yang masuk itulah yang disebut pendapatan. Naiknya aset karena pendapatan akan mengakibatkan naiknya ekuitas. Ekuitas naik karena pendapatan. Jadi, naiknya ekuitas merupakan konsekuensi bukan sumber pendapatan sehingga pendapatan tidak dapat didefinisi sebagai kenaikan ekuitas.
            FASB menyebutkan bahwa untuk dapat disebut pendapatan kenaikan aset harus berasal dari penyerahan barang atau pelaksanaan jasa. Jadi harus ada aliran keluar suatu barang atau jasa yang menandai atau memicu terjadinya pendapatan. Kelemahan konsep aliran keluar adalah bahwa pendapatan harus dikatakan terjadi setelah ada penyerahan barang. Hal ini menghalangi pengakuan pendapatan sebelum barang diserahkan. Bila beberapa definisi diatas digabung, memang ada dua aliran yang berkaitan dengan pendapatan yaitu:
  1. Aliran fisis berupa:
·         Kejadian memproduksi dan menjual produk
·         Objek, yaitu produk fisis itu sendiri.
  1. Aliran moneter berupa:
·         Kejadian menaiknya nilai aset perusahaan karena produksi atau penjualan produk ke consumer
·         Objek, yaitu jumlah rupiah aset atau produk yang dihasilkan atau dijual.
Paton dan Littleton memasukkan kata pertukaran dalam definisinya karena pendapatan akhirnya harus dinyatakan dalam satuan moneter untuk dicatat dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang paling objektif adalah kalau jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau pertukaran antara pihak independen.
Untung
Banyak argument diajukan mengenai perlu atau tidaknya pendapatan dibedakan dengan untung. Seperti pendapatan, kata-kata kunci yang melekat pada pengertian untung adalah:
1.      Kenaikan ekuitas (aset bersih)
2.      Transaksi periferal atau insidental
3.      Selain yang berupa pendapatan atau investasi oleh pemilik.
Dari ketiga karakteristik tersebut yang paling memebedakan dengan pendapatan adalah karakteristik ke 2 sebagai lawan dari operasi utama. Untung perlu dibedakan dengan pendapatan menurut FASB karena adanya karakteristik sumber yang dapat dibedakan dengan operasi utama. FASB merinci lebih lanjut transaksi, kejadian, atau keadaan yang menimbulkan untung menjadi empat sumber atau karakteristik yaitu (SFAC No. 6, prg.85):
a.       Periferal atau incidental
b.      Transfer nontimbal-balik
c.       Penahanan Aset
d.      Faktor lingkungan
Pengakuan Pendapatan
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan. Pengertian atau definisi pendapatan harus dipisahkan dengan pengakuan pendapatan bahkan pengertian pendapatan sebenarnya juga harus dipisahkan dengan pengukuran pendapatan. Dengan demikian, suatu jumlah yang memenuhi definisi pendapatan tidak dengan sendirinya jumlah tersebut diakui sebagai pendapatan.

Pembentukan Pendapatan
Pembentukan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan masalah kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul atau menjadi ada. Konsep pembentukan pendapatan menyatakan bahwa pendapatan terbentuk, terhimpun, atau terhak bersamaan dengan dan melekat pada seluruh atau totalitas hasil transaksi tertentu. Operasi perusahaan meliputi kegiatan produksi, penjualan, dan pengumpulan piutang. Konsep pembentukan ini sering disebut pendekatan proses pembentukan pendapatan atau pendekatan kegiatan.
Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar upaya dan hasil serta kontinuitas usaha. Karena tujuan perusahaan adalah menciptakan laba, manajemen atau pengusaha mengharapkan diharapkan bahwa pendapatan selalu lebih besar dari biaya. Jadi, dapat dikatakan bahwa setiap kali kos terjadi dalam tiap tingkat operasi perusahaan maka sejumlah laba telah terbentuk secara proporsional dengan kos yang terjadi. Dengan kata lain begitu kos diolah pendapatan sudah mulai tercipta. Sebaliknya, bila perusahaan belum melakukan kegiatan operasi apapun, maka pendapatan belum terbentuk.
Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenitas kos yaitu bahwa semua tahap kegiatan atau unsur di dalamnya mempunyai kedudukan atau arti penting yang sama dalam menghasilkan pendapatan. Selain itu ada konsep realisasi, dengan konsep ini pendapatan baru dapat dikatakan terjadi atau terbentuk pada saat terjadi kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen untuk membayar produk baik produk telah selesai dan diserahkan atau maupun belum dibuat sama sekali. Pendekatan transaksi menyebabkan terjadinya pendapatan lebih berkaitan dengan tahap kegiatan penjualan daripada dengan tahap produksi. Konsep realisasi atau pendekatan transaksi  lebih menekankan kejadian yang dapat menandai pengakuan pendapatan yaitu:
1.      Kepastian perubahan produk menjadi potensi jasa lain melalui proses penjualan yang sah atau semacamnya.
2.      Pengauatan atau validasi transaksi penjualan tersebut dengan diperolehnya aset lancer.
Dari konsep tersebut dapat disimpulkan bahwa proses realisasi merupakan konfirmasi proses perhimpunan pendapatan.
Kriteria Pengakuan Pendapatan
FASB mengajukan dua criteria pengakuan pendapatan yang keduanya harus dipenuhi yaitu:
  1. Terealisasi atau cukup pasti terrealisasi
Pendapatan dikatakan telah terealisasi bilamana produk, barang dagangan, atau aset lain telah terjual atau ditukarkan dengan kas atau klaim atas kas.
  1. Terbentuk/ terhak (earned)
Pendapatan dikatakan terbentuk bilaman perusahaan telah melakukan secara substansial kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat menghaki manfaat atau nilai yang melekat pada pendapatan.
Namun menurut Kam (1990, hlm. 243-252) mengemukakan kriteria pengakuan secara lebih teknis. Pendapatan baru dapat diakui kalau dipenuhi syarat-syarat berikut:
  1. Keterukuran nilai aset
  2. Adanya suatu transaksi
  3. Proses perhimpunan secara substansial telah selesai.
Saat Pengakuan Pendapatan
A.      Pada saat kontrak penjualan
Perusahaan telah menerima kas untuk seluruh nilai kontrak pada saat menandatangani kontrak penjualan tetapi perusahaan belum melakukan proses produksi barang. Dalam keadaan ini, pendapatan sudah terealisasi namun belum terbentuk sehingga pendapatan ini harus diakui sebagai kewajiban sampai barang atau jasa diserahkan kepada pembeli. Perlakuan semacam ini biasanya berlaku untuk perusahaan yang memproduksi barang konsumsi dengan jangka waktu penandatanganan kontrak dan penyerahan barang kurang dari 1 tahun.
B.       Selama proses produksi secara bertahap
Terdapata 2 metode pengakuan pendapatan yang dilakukan secara bertahap (per periode akuntansi) sejalan dengan kemajuan proses produksi ata sekaligus pada saat projek selesai da diserahkan yaitu:
1.         Metode persentase penyelesaian (percentage-of-completion method)
2.         Metode kontrak-selesai (completed-contract method)
Permasalahan untuk metode ini adalah terjadi ketidakseimbangan voleme pendapatan dan kegiatan produksi antartahun karena projek-projek tidak terjadi secara merata antartahun atau nilai-nilai projek tiap tahun sangat fluktuatif sementara perusahaan tetap menggunakan periode sebagai takaran pengukuran dan pelaporan laba. Selain itu masalah ini timbul jika perusahaan tidak memperlakukan tiap kontrak sebagai projek dan mengakui pendapatan pada saat produk diserahkan tanpa mengakumulasi kos yang berkaitan dengan produk sehingga penandingan yang tepat tidak tercapai.
Alternatif untuk memecahkan masalah ini yaitu:
§  Penggunaan projek atau angkatan produksi sebagai wadah atau takaran penentuan dan pelaporan laba bukannya periode waktu
§  Perusahaan mengakui pendapatan secara bertahap dan tetap menggunakan periode sebagai takaran pehitungan laba. Secara keseluruhan proses penghimpunan belum cukup selesai, tetapi penghimpunan untuk satu periode dapat dianggap telah cukup sehingga pendapatan dapat diakui secara proporsional untuk periode tersebut
Akresi
·      Akresi (accretion) adalah pertambahan nilai akibat pertumbuhan fisis atau proses alamiah lainnya.
·      Contohnya untuk produk anggur dan barang antik, dengan berjalannya waktu (proses penuaan), nilai aset akan semakin bertambah. Dalam definisi ini, akresi memenuhi pengertian pendapatan karena terjadi kenaikan aset dan banyaknya tambahan fisis tersebut dapat ditentukan secara objektif. Pertambahan tersebut berkaitan dengan operasi utama perusahaan
·      Dalam akresi, pendapatan sudah terbentuk tetapi belum terealisasi karena untuk merealisasi pertambahan nilai tersebut, proses produksi masih diperlukan dan masih harus harus diikuti dengan perubahan bentuk aset menjadi aset lancar baru (kas atau piutang)
·      Pada pelaporan laba periodik, pelaporan akresi jumlah rupiahnya harus dilaporkan terpisah dari laba yang telah benar-benar terealisasi
Apresiasi
ü Apresiasi adalah selisih “nilai pasar wajar” aset perusahaan dengan kos (atau nilai buku aset terdepresiasi)
ü Apresiasi berlaku untuk semua jenis aset tidak terbatas pada aset yang dikategori sebagai produk dan kenaikan asetnya tidak berkaitan langsung dengan operasi perusahaan melainkan berkaitan dengan kondisi pasar
ü Apresiasi bukan merupakan suatu hasil dari proses pembentukan pendapatan karena tidak ada upaya yang disengaja untuk menaikkan aset
ü Paton dan Littleton (1970) menentang apresiasi sebagai pendapatan karena:
1.         Apresiasi bukan merupakan transasksi
§  Kenaikan nilai pasar bukan merupakan pendapatan yang nyata
§  Apresiasi tidak menunjukkan kemajuan kegiatan operasi perusahaan
§  Apresiasi bukan hasil transaksi atau kegiatan produksi
§  Apresiasi tidak menambah sumber ekonomik untuk mendanai operasi
2.         Apresiasi tidak objektif
§  Penetuan besarnya nilai pasar, khususnya untuk aset-aset yang kompleks atau khusus, mempunyai validitas yang diragukan
§  Untuk aset berupa tanah atau lainnya dalam kondisi tertentu, jumlah rupiah apresiasi tersebut semata-mata hanyalah pendapat sehingga kos reproduksi dan depresiasinya tetap merupakan taksiran yang meragukan keterandalannya
§  Apresiasi seolah-olah dapat diubah menjadi dana likuid melalui penjaminan atau utang sehingga aset dapat merupakan alat atau cara untuk memperoleh tambahan aset likuid
Penghematan Kos
ü  Pos pembelian yang bersangkutan dengan prosespembelian yang sering dianggap pendapatan yaitu potongan pembelian dan pembelian dengan harga murah atau pembeli beruntung
ü  Potongan pembelian tidak memenuhi definisi pendapatan karena berkaitan dengan proses pembelian yaitu proses pemerolehan aset pada tingkat awal
ü  Semua jenis potongan pembelian diperlakukan sebagai pengurang (offsets) yaitu setiap tambahan pembayaran karena ketidakmampuan membayar dalam periode potongan (discount period) merupakan rugi dan potongan yang diperoleh karena membayar dalam periode potongan adalah pengurang atau penyesuai kos (cost adjustment) bukan untung.
ü  Penghematan kos sama sekali bukanlah pendapatan. Efisiensi dan keberuntungan dalam pembelian akan mempunyai pengaruh terhadap laba yang akhirnya dipeoleh tetapi diperolehnya laba masih menunggu realisasi penjualan
C.    Pada Saat Produksi Selesai
-            Setara dengan metode kontrak-selesai
-            Pendapatan diakui berdasar banyaknya barang yang diproduksi bukan banyaknys unit barang yang terjual sehingga faktor penentunya adlah kegiatan produksinya bukan penjualannya
-            Kegiatan produksi tanpa adanya penguatan yang berasal dari penjualan dengan harga yang disepakati tidak dapat selalu dijadikan penguji yang obyektif dan menentukan untuk dasar pencatatan dan pengakuan pendapatan
D.    Pada Saat Penjualan
-            Merupakan dasar yang paling umum karena pada saat penjualan kriteria penghimpunan dan realisasi telah terpenuhi dengan adanya kesepakatan pihak lain untuk membayar jumlah rupiah pendapatan secara obyektif
-            Pada saat penjualan, jumlah rupiah harga telah disepakati dan produk telah keluar dari perusahaan
-            Transaksi penjualan mengakibatkan masuknya aset baeu ke dalam perusahaan untuk:
1.    menutup kos yang terserap untuk melaksanakan kegiatan produksi  yang berkulminasi dengan penyerahan produk
2.    menyediakan dana sebagai imbalan untuk pembayaran pajak kepada pemerintah, bunga kepada kredito, bunga kepada kreditor, dan deviden kepada pemegang saham
-            Masalah yang muncul untuk metode saat penjualan diantaranya:
1.    Kepastian pengukuran pendapatan akibat kos purna-jual atau pasca-jual
2.    Kemungkinan atau pengembalian barang berkaitan dengan masalah kolektibilitas
-            Penyelesaian masalahnya yang muncul:
1)   Kembalian dan Potongan Tunai
-       Syarat-syarat pendapatan dapat diakui saat penjualan dengan hak mengembalikan menurut SFAS No. 48, prg. 6 yaitu:
a.    Harga jual cukup pati dan dapat ditentukan pada tanggal penjualan
b.    Pembeli sudah membayar kepada penjual
c.    Kewajiban membayar oleh pembeli tidak berubah dalam hal terjadi pencurian atau kerusakan fisis produk
d.   Pembeli benar-benar ada secara substantif
e.    Penjual tidak mempunyai kewajiban yang material untuk melakukan tindakan di masa datang yang secara langsung menjadikan pembeli mampu menjual produk yang sama
f.     Jumlah rupiah kembalian dapat ditaksir secara layak
-       Potongan tunai penjualan tidak menghalangi pengakuan pendapatan pada saat penjualan. Potongan penjualan adalah potongan yang ditawarkan penjual melalui tema penjualan
-       Jumlah rupiah penjualan yang efektif adalah jumlah rupiah neto atau setelah potongan tunai buakn jumlah kotor faktur
2)   Kos Purna-jual
Penyesuaian untuk kos purna-jual merupakn bagian dari pengukuran laba yang tepat dilakukan dengan mendebit jumlah rupiah taksiran kos kegiatan dan mengkredit jumlah rupiah yang sama ke dalam suatu akun cadangan melalui penyesuaian akhir tahun
3)   Kerugian piutang
Masalah ini diatasi dengan membentuk cadangan kerugian piutang. Pendapatan disajikan dalam statemen sejumlah piutang yang benar-benar dapat direalisasi (net realizable value). Kerugian piutang disajikan sebagai biaya penjualan di statemen laba-rugi dengan pengumpulan piutang atau dapat juga sebagai pengurang langsung pos pendapatan
4)   Transaksi penjualan
Ketentuan untuk mengakui pendapatan dari penjualan menurut PSAK No. 23:
ü  Perusahaan telah memindahkan risiko secara signifikan dan telah memindahkan manfaat kepemilikan barang kepada pembeli
ü  Perusahaan tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual
ü  Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal
ü  Besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan dengan transaksi akan mengalir ke perusahaan tersebut
ü  Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan transaksi penjualan dapat diukur dengan andal
E.     Pada saat kas terkumpul
Ø  Pengakuan dasar kas digunakan untuk transaksi penjualan yang barang atau jasanya telah diserahkan/dilaksanakan tetapi kasnya baru akan diterima secara berkala dalam waktu yang cukup panjang karena adanya ketidakpastian tentang kolektibilitas atau ketertagihan piutang
Ø  Jumlah tagihan pada umumnya proporsional dengan jasa yang telah dilaksanakan dari seluruh nilai kontrak yang kelayakannya bergantung pada lamanya jasa diserahkan dan dikonsumsi
1)    Jasa yang dikonsumsi dalam jangka pendek
2)    Jasa yang dikonsumsi dalam jangka panjang
3)    Argumen pendukung
Dasar validitasnya adalah untuk penjualan angsuran dengan mempertimbangkan:
-       Seluruh atau sebagian piutang bukan merupakan aset yang mempunyai daya beli murni
-       Makin lama jangka waktu untuk mengangsur makin besar kemungkinan piutang tak tertagih
-       Kos purna-jual, terutama kos penagihan dan pengumpulan piutang biasanya lebih tinggi dibandingkan kos purna-jual untuk penjualan kredit jangka pendek
4)    Alasan penyanggah
Paton dan Litteton (1970) menegaskan pengakuan pendapatan dasar kas untuk perusahaan jasa kurang dapat didukung dengan alasan:
-       Tagihan piutang yang timbul akibat penyerahan jasa pada dasarnya mempunyai kedudukan yuridis yang sama dengan piutang timbul dari penjualan barang
-       Kemungkinan kegagalan untuk menerima pelunasan piutang dalam perusahaan jasa lebih besar daripada perusahaan dagang
-       Kemungkinan terjadinya kerugian piutang memang sudah tidak ada lagi tetapi tidak berarti bahwa pendapatan sudah dapat diakui
5)    Prosedur akuntansi dasar kas
-       Pada saat kontrak penjualan angsuran dan pengiriman seluruh barang
Pengiriman Barang-Dasar Kas               xxx
Sediaan Barang Dagangan                                   xxx
-       Perusahaan meneima uang muka atau angsuran
Kas                                                         xxx
Penjualan-Dasar Kas                                            xxx
-       Pada akhir periode harus diperhitungkan kos produk yang dapat dibebankan secara tepat (sebagai biaya) ke pendapatan dasar kas tersebut
Kos Barang Terjual-Dasar Kas              xxx
Pengiriman Barang-Dasar Kas                             xxx
-       Pada akhir periode terdapat penjualan yang sudah diterima kasnya tetapi barang belum dikirim maka kos barang tersebut harus ditaksir dan ditambahkan ke kos barang terjual dasar kas
Kos Barang Terjual-Dasar Kas              xxx
Utang Pengiriman Barang-Dasar Kas                  xxx
6)    Biaya administrasi dan penjualan
-       Jika pendapatan diukur atas dasar penerimaan kas, kos yang dibebankan sebagai biaya harus kos yang benar-benar telah dikorbankan untuk mendapatkan pendapatan dasar kas tersebut
-       Pada umumnya kos administrasi dan penjualan bukan merupakan kos yang ada dapat diperlakukan seperti kos sediaan yaitu tersediaankan (inventoriable)
-       Jika seluruh jumlah rupiah kas yang telah diterima dari pelanggan dalam suatu periode diakui sebagai pendapatan, maka biaya yang dapat ditandingkan terhadap pendapatan tersebut adalah biaya yang berkaitan dengan upaya untuk memperoleh pendapatan sebesar kas yang telah diterima tersebut bukan biaya yang telah dibayar selama periode bersangkutan

Saat Pengakuan Penjualan Jasa
Yang sulit ditentukan dalam pengakuan penjualan jasa adalah kejadian atau kegiatan yang menandai bahwa penyerahan jasa te;ah terjadi dan selesai.
Kaidah pengakuan umum penjualan jasa menurut AICPA:
1.        Pendapatan harus diakui pada saat pekerjaan telah selesai dilakukan
2.        Pendapatan diakui selama periode pelaksanaan pekerjaan secara proporsional jika pekerjaan dilakukan secara bertahap
3.        Pendapatan dapat diakui pada saat seluruh pekerjaan telah selesai untuk pekerjaan dilakukan secara bertahap, jika:
a.    Proporsi jasa yang dilakukan pada tahap akhir pekerjaan begitu kritisnya sehingga seluruh pekerjaan tidak dapat dikatakan selesai sebelum tahap akhir dilaksanakan
b.    Jasa harus diberikan dalam beberapa tahap yang tidak dapat ditentukan di muka selama waktu yang tidak pasti dan tidak ada cara yang cukup layak untuk menetukan tingkat penyelesaian pekerjaan tersebut
4.        Pendapatan harus diakui pada setelah kas terkumpul jika terdapat ketidakpastian yang tinggi kolektibilitas pendapatan jasa

Pedoman Umum Pengakuan Pendapatan menurut FASB dalam SFAC No. 5 paragraf 84:
1.        Kriteria terbentuk dan terealisasi dipenuhi pada saat barang diserahkan atau jasa diberikan konsumer
2.        Jika kontrak penjualan atau penerimaan kas (atau keduanya) mendahului produksi dan pengiriman, pendapatan diakui pada saat terhak (earned) dan pengiriman (delivery)
3.        Kalau produk dikontrak  sebelum diproduksi, pendapatan diakui bertahap dengan metoda persentase penyelesaian pada saat sudah terbentuk
4.        Jika jasa diberikan atau hak menggunakan aset berlangsung secara terus menerus, selama suatu perioda, pendapatan diakui bersamaan dengan berjalannya waktu
5.        Jika produk atau aset dapat segera terealisasi, pendapatan dan untung atau ruginya diakui saat selesainya produksi atau pada saat harga aset tersebut berubah
6.        Jika produk, jasa, atau aset lain ditukarkan dengan aset nonmoneter yang tidak dapat segera dikonversi, pendapatan dan untung atau ruginya diakui pada saat transaksi telah selesai dengan nilai wajar aset nonmoneternya dapat ditentukan dalam kisaran wajar
7.        Jika ketertagihan aset yang diterima meragukan, pendapatan diakui atas dasar kas yang terkumpul
Prosedur Pengakuan
Kaidah pengakuan pendapatan harus dijabarkan dalam bentuk kebijakan akuntansi atau prosedur akuntansi (accounting manual) untuk menetukan kegiatan internal yang dapat dijadikan tanda atau pemicu pengakuan pendapatan.
Kebijakan akuntansi perusahaan harus menetapkan kejadian atau kegiatan internal perusahaan yang digunakan sebagai pemicu pencatatan ke dalam sistem akuntansi.
Berikut adalah ringkasan kegiatan internal sebagai pemicu dan bukti pengakuan pendapatan:
Kaidah Pengakuan
Kegiatan Internal yang terkait
Kaidah Pemicu dan Bukti Pengakuan
Pada saat kontrak penjualan
Penandatanganan kontrak/penerimaan uang muka (kegiatan produksi/internal belum terjadi)
Pendapatan belum diakui. Surat kontrak dan penerimaan bukti setor bank sebagai dasar pencatatan uang muka
Selama proses produksi secara bertahap (sudah ada kontrak penjualan)
§  Penggunaan bahan baku, TKL, overhead
§  Pembayaran biaya administrasi dan pemasaran
§  Penagihan (billing)
§  Penyesuaian akhir tahun
§  Penyiapan dan pengiriman surat penagihan
§  Penyesuaian akhir tahun atas dasar catatan akumulasi kos
Pada saat produksi selesai (Sudah ada kontrak penjualan/order pembelian atau belum)
§  Peemindahan barang jadi dari pabrik ke gudang
§  Penyesuaian akhir tahun
§  Belum ada kontrak:
a.       Penyerahan barang ke bagian gudang disertai nota penerimaan
b.      Penyesuaian akhir tahun
Syarat cukup pasti terealisasi harus dipenuhi
§  Sudah ada kontrak: penyerahan barang ke bagian gudang disertai nota penerimaan dan surat kontrak atau order pembelian
Pada saat penjualan
§  Penerimaan order pembelian
§  Penerimaan uang muka
§  Pengiriman barang langsung atau melalui ekspedisi
§  Penyiapan/pengiriman faktur penjualan
§  Penerimaan nota terima barang dari pembeli
§  Pengiriman barang disertai pengiriman faktur sesuai syarat
§  Penerimaan nota terima barang didukung faktur dan order pembelian/penjualan
Pada saat kas terkumpul. (Sudah ada kontrak dan barang telah dikirim)
§  Pengiriman surat tagihan angsuran
§  Penerimaan kas atau alat pembayaran lain (transfer via bank)
§  Penyesuaian akhir tahun
§  Penerimaan kas didukung nota pembayaran atau bukti transfer
§  Penyesuaian akhir tahun atas dasar catatan kas yang terkumpul sampai akhir periode



Baca Juga  Materi Teori Akuntansi  lainnya..


0 komentar:

Poskan Komentar

Berilah Komentar Apabila anda menyukai materi di atas!komentar bersifat membangun dan gunakan kata-kata sepatutnya..Terimakasih

Convert Currency